Skip to content
Iklan

Pengalamanku Mengenal Bahasa

Penafian:
Tulisan ini merupakan tujuh besar dari lomba penulisan “Pengalamanku Belajar Bahasa Kedua
Tulisan ini tidak diubah atau disunting ulang oleh Cerita Bahasa dan berlisensi CC-BY-NC-SA 4.0

Oleh: Fataya Azzahra

Bahasa tak pernah lepas dari kehidupan kita sehari-hari pun dalam mimpi. Selain bahasa ibu atau bahasa pertama yang kita gunakan sebagai komunikasi, ada pula berbagai macam bahasa yang dapat kita temukan di lingkungan sekitar. Secara sadar ataupun tidak bahasa itu mempengaruhi kita juga dalam hal berperilaku. Di sekolah, sebagaimana tempat kita menempuh pendidikan, diajarkan pula bahasa kedua, entah itu bahasa inggris atau bahasa daerah lainnya. Hal itu dilakukan agar kita dapat lebih mengenal lebih luas perihal bahasa.

Aku belajar bahasa inggris sebagai bahasa kedua. Meski begitu, aku memutuskan untuk lebih banyak belajar mengenai bahasa itu. Tapi, jujur, aku memutuskan untuk belajar sendiri untuk mendalaminya, baik itu dari membaca dan  mendengarkan lagu. Sesekali aku juga bertanya kepada Ayah untuk penggunaan kalimat sisipan seperti “Only you know what you feel[1] di novel yang sedang kugarap kala itu. Ya, itu tidak terlalu sulit, bukan? Tapi aku hanya meyakinkan saja bagaimana menemukan kalimat yang lebih tepat.

Ceritaku selanjutnya adalah pengalamanku ketika belajar bahasa kedua selain bahasa inggris adalah belajar bahasa perancis. Ahh… excited sekali aku ketika mendengar ajakkan Ayah waktu itu. Aku ingat waktu itu Ayah mengatakan kalau aku harus bisa bahasa selain bahasa indonesia dan inggris. Ayah menjemputku sepulang sekolah dengan motornya. Waktu itu aku ingat aku masih kelas dua sekolah menengah pertama. Ayah akhirnya mendaftarkanku les bahasa perancis di Centre Culture Francais (CCF) di Salemba, sekarang  berganti nama menjadi Institut Français d’Indonésie (IFI). Aku terus menekuni belajar bahasa tersebut sendiri toh di rumah tak ada yang bisa aku ajak bicara bahasa perancis. Walau akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dari les itu lantaran banyak tugas sekolah, tapi sampai ini aku masih mempelajarinya. Dan kabar baiknya adalah ketika aku bersekolah di sekolah menengah atas, pelajaran bahasa perancis ada di dalam daftar jadwal pelajaranku. Aku senang sekali waktu itu. Berharap suatu saat nanti, aku benar-benar bisa berada di Kota Cahaya tersebut.

Di sekolah, aku yang menjadi andalan teman-teman untuk tempat bertanya pun dalam waktu lomba selalu aku yang menjadi andalan kelasku. Alhasil, waktu itu kelasku menyandang juara pertama lomba membaca artikel perancis dan juara dua dialog bahasa perancis. Hadiahnya tidak seberapa, tapi aku sangat senang karena ilmu yang kudapat bisa berguna.

Sayangnya, sewaktu aku masuk kuliah, jurusan Sastra Perancis tidak dapat kuperoleh karena nilai-nilaiku kurang untuk mendapatkan jurusan itu. Maka, aku berbalik arah ke semula. Tetap pada Fakultas Sastra, tapi jurusan yang aku mengambil adalah Bahasa dan Sastra Indonesia. Meski begitu, masih saja ada orang yang mencemooh atau menggampangkan bahasa tersebut. Memang apa salahnya dengan jurusan itu? Toh, setiap hari kita bersastra. Seperti ketika orang menanyakan mengenai jurusan apa yang kuambil dan ketika kujawab dengan Sastra Indonesia, mereka langsung diam atau menjawab “Nanti mau jadi guru, ya?”. Aku hanya dapat menghela napas setiap mendapat komentar seperti itu setiap ada yang menanyakan perihal kuliahku.

Jujur, aku tak pernah berpikiran menjadi guru atau berkeinginan menjadi guru. Aku tidak mau. Itu saja. Tidak perlu penjelasan lebih panjang untuk itu. Bukannya aku tidak menghargai seorang guru, aku sangat menghargainya. Sebab mereka yang telah mengajariku hingga aku dapat seperti ini.

Aku pun tidak pernah menolak bila ada yang minta diajari atau dibantu. Aku malah senang sekali waktu aku diajak ke sebuah yayasan yang di dalamnya ada anak-anak kecil usia pra-sekolah. Aku berlaku sebagai volunteer di tempat itu. Di sana, aku mengajarkannya belajar membaca dan menulis. Meski hanya beberapa kali, pengalaman itu sangat berharga untukku.

Pada akhir 2012, aku memutuskan untuk menulis sebuah cerita dalam bentuk novel. Banyak yang terjadi dalam proses pembuatan novel itu untuk menjadi sebuah buku. Dan aku sangat menikmati proses penulisannya. Hingga aku dapat menyelesaikan naskah novel pertamaku dalam waktu tiga bulan yang kuberi judul “L’amour C’est Toi”[2].

Pernah aku berbagi ilmuku tentang bahasa perancis di kampusku ketika dibuka kelas kursus bahasa perancis. Kelas itu dibuka secara cuma-cuma, tidak dipungut biaya apapun. Aku senang sekali bisa melakukannya. Namun sayang, kelas itu tudak bertahan lama karena dianggap menyalahi aturan perkampusan… L

Tahun 2015 bulan Agustus itu adalah waktu penuh dengan keajaiban. Akhirnya, aku dapat menapaki kakiku di Perancis. Aku sangat berterima kasih kepada-Nya karena sudah mengabulkan permintaanku ini. Saat itu, aku diajak oleh Ayah yang kali ini harus menghadiri sebuah kongres besar di Montpellier, Perancis bagian utara. Dan ya, pada tiga hari terakhir kami menginjakkan kaki di Paris. Bahasa perancis-ku minim sekali mengingat orang berkewarganegaraan Perancis tidak bisa berbahasa inggris, jadi aku hanya dapat mengamati orang-orang di sekitarku. Pun  ketika Ayah menanyakan jam atau arah sewaktu di bandara. Aku hanya melemparkan permintamaafanku kepada mereka. Kami juga mengunjungi tempat-tempat yang ada kujadikan latar tempat di novelku, seperti Eiffel, Seine river, dan Pont des Arts. Meski aku tak sempat naik ke atas Menara dan melihat kota Paris lewat teropongnya, tapi aku bersyukur aku sudah bisa merasakan sensasi indahnya di bawah langit Paris. Berharap aku bisa kembali ke sana suatu hari nanti.

Aku percaya kalau semakin sering kita berharap, semakin besar kemungkinan harapan itu menjadi kenyataan.

Banyak yang bisa kulakukan dengan ilmu yang sudah kudapat kini—dalam hal Sastra Indonesia—aku bisa menulis, berbagi cerita dari tulisan-tulisan yang kubuat, aku pun bisa membuat banyak orang bahagia melalui cerita-cerita yang kubuat. Sederhana bukan? Itu yang menjadi keinginan terbesarku saat ini.

Rujukan

[1] Novel ‘More Than This (Feliz Books (2016), p.184)

[2] Novel L’amour C’est Toi (Feliz Books, 2014)

Iklan

Tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: