Skip to content
Iklan

Pengalamanku Belajar Bahasa Kedua

Penafian:
Tulisan ini merupakan tujuh besar dari lomba penulisan “Pengalamanku Belajar Bahasa Kedua
Tulisan ini tidak diubah atau disunting ulang oleh Cerita Bahasa dan berlisensi CC-BY-NC-SA 4.0

Oleh: Binti Aisiah Daning Sumari

Berdasarkan pendapat para ahli bahasa (linguist), bahasa pertama (first language) adalah bahasa yang diperoleh seorang anak manusia ketika mereka mulai bisa bicara. Bahasa pertama didapat baik dari lingkungan keluarga dan lingkungan sosial. Dalam beberapa kasus, orang tua yang bicara dalam bahasa Indonesia belum tentu anak akan bicara dalam bahasa Indonesia juga. Karena lingkungan sepermainan dan masyarakatnya mempergunakan Bahasa Sunda misalnya. Sehingga jika anak tersebut lebih fasih berbahasa jawa, maka yang menjadi bahasa pertama anak itu adalah Bahasa Sunda. Mengapa bisa seperti itu? Karena menurut ahli bahasa yang menganut paham lateraliation, otak manusia menyimpan lebih banyak kosa-kata bahasa tertentu jika bahasa tersebut melekat kuat dalam human brain. Selain daripada itu, memori-memori terhadap bahasa itu yang bisa dipanggil (re-calling) sewaktu-waktu jika dimungkinkan dalam keadaan tertentu karena memang telah terjadi proses penguatan memori di dalam otak manusia, dimana istilah ini bernama lateralization.

Berbeda lagi dengan bahasa ke dua. Bahasa ke dua (second language) atau disebut juga dengan L2A (Second Language Acquisition) yaitu pemerolehan bahasa ke dua, adalah proses dimana bahasa dipelajari ketika seorang anak memasuki dunia pendidikan. Meskipun memang belum tentu demikian adanya. Sebab, dalam beberapa kasus, anak polyglot yang bisa berbahasa lebih dari dua bahasa atau istilahnya multilinguialism, mempelajari berbagai bahasa tersebut dari orangtuanya, media sosial atau mungkin dari mengikuti kursus bahasa.

Sebagai contoh Bella berusia 4 tahun bisa berbicara 7 bahasa. (bisa diakses di atas). Bella mengakui bahwa ia belajar berbagai bahasa seperti Bahasa Inggris, Bahasa Cina, Bahasa Spanyol, Bahasa Jerman, Bahasa Perancis, Bahasa Arab dan Bahasa Rusia sebagai bahasa pertamanya.  Anak berusis empat tahun ini deimikian karena sejak kecil orangtuanya yang mengenalkan berbagai bahasa tersebut secara intensif sampai Bella benar-benar mahir. Jadi pada intinya, bahasa pertama adalah bahasa yang diperoleh secara unconscious (tak sadar) mengalir begitu saja tanpa perlu dipelajari, sedangkan bahasa ke dua adalah bahasa yang dipelajari (on purpose) dengan maksud dan tujuan tertentu.

Saya sendiri, bahasa pertama saya adalah Bahasa Jawa. Sejak kecil saya telah bersinggungan erat dengan Bahasa Jawa baik dalam keluarga maupun di lingkungan masyarakat. Bahasa Jawa memiliki beberapa level yang menurut ahli Bahasa Jawa juga berbeda-beda pengklasifikasiannya. Menurut Ronggowarsita, Bahasa Jawa dikelompokkan pada level-level: ngoko kasar, ngoko alus, krama alus dan krama inggil. Sedangkan bahasa ke dua, sebenarnya saya tidak yakin dengan bahasa ke dua saya apakah Bahasa Indonesia ataukah Bahasa Inggris. Dahulu, ketika menonton TV di tahun-tahun milenium 2000 awal, saya sering menonton MTv (sekarang GlobalTV). Karena pada waktu itu memang stasiun televise yang ada baru MTv dan TVRI. Pada waktu itu, acara yang sedang hits di MTv adalah acara anak-anak yang menampilkan manusia boneka mirip Barney didampingi presenter yang lengkap berbahasa inggris. Saya lupa nama acaranya tapi saya masih ingat sampai sekarang bagaimana penampilan mereka. Meskipun pada waktu itu saya tidak paham dengan apa yang disampaikan presenter itu, tapi saya sangat menikmati acara televisi itu.

Menginjak bangku kelas V Sekolah Dasar, saya mulai berkenalan dengan Bahasa Inggris secara intensif bersama Pak Edy. Saya belum terlalu menyukainya pada waktu itu. Tapi sebagai murid, saya hanya perlu mempelajarinya. Tidak mungkin saya tidak mempelajarinya sebab jika tidak berarti saya tidak akan mendapat nilai, piker saya waktu itu. Jadi saya masih berorientasi pada nilai. Belum menunjukkan rasa suka. Nilai say adi mata pelajaran Bahasa Inggris tidak terlalu buruk, hanya pada bagian menyebut jam, saya agak kesulitan.

Menginjak Sekolah Menengah Pertama, uniknya, sekolah saya sedang mengadakan lomba pidato Bahasa Inggris. Sudah ada teksnya, tinggal membaca saja. Kelas saya, kelas VIIB , tidak punya kandidat untuk diajukan. Mereka hanya sibuk menunjuk orang, kamu saja, kamu saja, sampai akhirnya kertas berisi teks pidato itu berada di tanga saya. Sebenarnya saya tidak terlalu berharap denga penunjukkan ini akan menghasilkan hadiah untuk kelas saya. Hanya karena tidak ada yang bersedia maju, maka saya pun bersedia. Tak disangka, pengumuman beberapa jam kemudian menyatakan saya mendapat juara ke-3. Beruntung. Ini pertama kalinya saya mendapat kepercayaan diri dengan Bahasa Inggris.

Hari berganti, kemampuan terus berangsur meningkat setahap demi setahap. Guru Bahasa Inggris kelas VII menunjuk saya untuk mewakili sekolah maju ke tingkat kabupaten mengikuti lomba Story Telling. Saya masih ingat, judul cerita yang saya bawakan adalah Mousedeer and The Farmer. Pernah suatu ketika saya menangis saat latihan, saya tidak ingat apa yang saya rasakan pada waktu itu. Saya menangis bukan karena sakit secara fisik atau sakit hati. Sepertinya karena merasa tertinggal disbanding teman saya yang sama-sama mengikuti lomba itu. Kami dilatih di tempat yang sama, waktuyang sama dan oleh guru yang sama. Tapi saya merasa bahwa saya memang agak lama perkembangan latihannya. Meskipun begitu, saya tetap mengikuti lomba itu hingga hari H. Persiapan sudah sangat terkondisikan tapi saya akui memang kurang perlengkapan pada waktu lomba itu. Meskipun saya tidak memenangkan lomba itu, begitu juga dengan teman saya, saya tidak lagi berkecil hati. Saya bersyukur setidaknya saya tidak menyerah hingga hari H. Selain lomba itu juga saya diikutkan lomba drama bersama dengan ketiga teman saya. Lagi-lagi saya merasa perlengkapan memang kurang. Jika permasalahan pronunciation, hal ini sudah terlatih pada masa latihan. Tapi lagi-lagi saya dan teman-teman tidak menang.

Di masa SMA saya juga mengikuti lomba debat bersama tiga orang kawan, kakak kelas XI, sementara saya sendiri masih kelas X pada masa itu. Beruntung, kami lolos lima besar, kami menjadi juara harapan 2. Tapi, setahun kemudian, saya mengikuti lomba yang sama satu tim dengan dua teman satu angkatan yaitu kelas XI, tapi sungguh tidak beruntung, karena baru tahap pertama mengikuti lomba, sudah berhadapan dengan SMA 1 yang unggul di kabupaten kala itu. Kami pun merasa ciut secara mental. Dan betul juga, kami tidak menang.

Begitulah kisah pengalaman saya ketika mempelajari bahasa ke dua. Saya mendapat kepercayaan diri karena guru-guru Bahasa Inggris sejak di bangku SMP dan SMA itulah yang menyebabkan saya lambat laun menyukai mata pelajaran ini.  Ketika memilih jurusan kuliah, tidak perlu lama-lama berpikir, saya memilih Pendidikan Bahasa Inggris. Saya terinspirasi dari guru-guru saya yang mengajar dengan baik, unik, dan dengan sederhana sehingga cepat dipelajari. Oleh karena itu, sebenarnya, profesi seorang pendidik memiliki porsi dan kecenderungan lebih untuk bisa mengajari anak-anak didiknya supaya menguasai bahasa yang diajarkan. Menjadi terlatih, terinspirasi dan terdorong untuk menguasai bahasa tersebut. Sesungguhnya guru punya peran yang penting disini. Bagaimanapun, anak-anak didik tidak akan belajar bahasa ke dua, ke tiga, ke empat dan selanjutnya tanpa memasuki dunia pendidikan.

Sedangkan saya berpikir bahwa, Bahasa Jawa adalah bahasa pertama saya, Bahasa Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sebagai bahasa ke dua saya. Secara umum  warga di Indonesia memiliki bahasa pertama yaitu bahasa daerah jika mereka berasal dari daerah tertentu, seperti Bahasa Sunda, Bahasa Dayak, Bahasa Sasak, Bahasa Jawa dan sebagainya. Bahasa ke dua warga Indonesia pasti adalah Bahasa Indonesia, karena mayoritas WNI mempergunakan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan, bahasa yang digunakan oleh dua daerah yang berbeda ketika berbicara. Misalnya orang Jawa Barat, memiliki Bahasa Sunda sebagai bahasa pertamanya, orang Kalimantan Barat memiliki Bahasa Melayu sebagai bahasa pertamanya. Mustahil mereka akan saling mengerti pembicaraan satu sama lain, jika tidak menggunakan Bahasa Indonesia.  Maka secara umum, kita patut berbangga diri, kita memiliki dan menguasai lebih dari satu bahasa. Setiap orang di Indonesia mayoritas menguasai bahasa ke dua.

Iklan

Tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: