Bahasa dan Budaya

Penafian:
Tulisan ini merupakan tujuh besar dari lomba penulisan “Pengalamanku Belajar Bahasa Kedua
Tulisan ini tidak diubah atau disunting ulang oleh Cerita Bahasa dan berlisensi CC-BY-NC-SA 4.0

Oleh: Farizza Noor Amalia

Menirukan Pak Guru mengucapkan aneka kosakata asing adalah salah satu kegiatan yang paling saya ingat dari belajar bahasa Inggris. Begitulah rutinitas kami, siswi yang kala itu masih Sekolah Dasar (SD), serempak menirukan pak guru melafalkan ragam kata berbahasa Inggris dan artinya. Walaupun sudah diucapkan berulang kali, masih saja datang kesempatan untuk lupa artinya keesokan pagi. Kenangan akan belajar mata pelajaran bahasa Inggris hanya menyisakan samar tentang menirukan Pak Guru, lalu mengerjakan soal di Lembar Kerja Siswa (LKS). Dan siklus ini berulang di pertemuan selanjutnya hingga kedepannya.

Pengalaman serupa kembali hadir di bangku sekolah tingkat selanjutnya. Selama bersekolah jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), periode belajar bahasa Inggris terdiri dari menirukan pelafalan dari guru atau berlatih percakapan dalam buku dengan teman sebangku, lalu mengerjakan soal latihan, dan di tingkat ini ditambah dengan belajar tata bahasa Inggris. Saya dan teman-teman menyebutnya Tenses, ada 16 rupa yang harus dihafalkan. Kemudian naik ke Sekolah Menengah Atas pun saya masih menemui strategi belajar yang sama, sehingga setiap kali memasuki periode belajar bahasa Inggris, waktu terasa berjalan sangat lambat dan membosankan. Kami semakin berkutat dengan materi tentang tata bahasa Inggris, grammatical range, yang semakin sulit untuk dipahami. Yang membuat pengalaman belajar kami sedikit berwarna adalah adanya pementasan drama singkat berkelompok yang skenarionya kami tulis sendiri, walaupun takut salah melafalkan kosakata bahasa Inggris  atau akting kami yang masih malu-malu, kami tetap bersemangat untuk menampilkan yang terbaik.

Meskipun tidak terlalu antusias belajar bahasa Inggris di sekolah karena penuh dengan hafalan rumus Present, Past, dan Future Tense, namun saya gemar mendengarkan lagu dan menonton acara televisi berbahasa Inggris. Kebiasaan ini secara tidak langsung berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, karena dengan mendengarkan lagu, kita dapat memperluas wawasan kosakata, dan dengan menyenandungkannya, kita dapat meniru pengucapan yang benar dari penuturnya. Kebiasaan ini selain membuat kita terhibur, juga bermanfaat dalam membiasakan diri dengan berbagai ekspresi percakapan bahasa Inggris.

Namun demikian, saya juga sempat mendapatkan label negatif karena kesukaan ini, dianggap terlalu kebarat-baratan. Pada waktu itu penggunaan bahasa Inggris, baik dalam institusi pendidikan ataupun pergaulan, belum marak seperti sekarang ini. Saya beranggapan bahwa belajar bahasa Inggris tidak serta merta mengubah kedirian seseorang menjadi asing terhadap budaya bangsanya. Saya pun masih tetap warga negara Indonesia yang telah ditanamkan kearifan lokal dan nasional sejak dini dan senantiasa berproses ke arah yang lebih baik. Mempelajari bahasa asing, apapun itu, tidak serta merta melunturkan nilai-nilai yang sudah kita yakini, sebaliknya malah dapat semakin meningkatkan wawasan kita akan pengetahuan bahasa dan budaya nasional seperti diungkapkan oleh Johann Wolfgang Von Goethe, “Those who know nothing of foreign languages know nothing of their own”.

Ditilik dari pengalaman yang saya dapatkan selama belajar bahasa Inggris di institusi pendidikan formal, dirasa masih belum mampu menguatkan bekal kompetensi berbahasa Inggris. Hal ini bisa dilatarbelakangi kurangnya praktik dalam kehidupan sehari-hari, dan strategi pengajaran yang diterapkan kurang memotivasi siswa untuk mengaplikasikan apa yang sudah didapatkan di kelas. Sehingga ada kecenderungan dari siswa untuk enggan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, dikarenakan takut salah dan kurang percaya diri. Jadi pengetahuan yang didapatkan tertinggal di dalam kelas, tidak berkembang.

Proses penguasaan bahasa Inggris tidak bisa dicapai dalam sekejap. Di samping ketekunan dan keuletan, juga dibutuhkan praktik, serta perlu diseimbangkan pengajaran materinya, jadi tidak melulu berkutat di tata bahasa, dan mengesampingkan aspek lain seperti berbicara, menyimak, dan menulis. Pengajar juga perlu memotivasi siswa agar tumbuh rasa percaya diri dan keinginan untuk mempraktikkan pengetahuan yang telah diperoleh, hal ini dapat dimulai dengan menciptakan lingkungan belajar yang positif dan merangsang siswa untuk aktif. Kearifan lokal juga bisa turut diintegrasikan dalam proses pembelajaran bahasa Inggris di kelas untuk menguatkan pemahaman akar budaya bangsa.

Iklan

Tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s