Skip to content
Iklan

Pilot, Pesawat, dan Bandara dalam Bahasa Jawa

Sebagian dari kita mungkin masih ingat kata montor mabur untuk menyebut pesawat terbang dalam bahasa Jawa. Bagi kebanyakan orang Jawa, kata ini merupakan sisa ingatan masa kecil yang terpatri dalam rasa girang saat bisa melihat pesawat terbang hilir-mudik melintasi wilayah perkampungan.

Kata montor mabur ini mudah bagi kebanyakan kita mengingatnya. Bagaimana dengan kata pilot dan bandar udara dalam bahasa Jawa? Tidak banyak yang tahu bahwa bahasa Jawa sebetulnya memiliki kosakata terkait dunia kedirgantaraan.

Awal abad ke-20 merupakan masa saat berkecamuknya banyak peperangan, termasuk Perang Dunia II. Kisah-kisah pertempuran udara dan perjalanan dengan pesawat terbang pun sangat diminati dan banyak dimuat dalam berbagai surat kabar maupun majalah. Bagi kita yang mau merepotkan diri menyelisik terbitan awal 1900-an berbahasa Jawa, Majalah Kajawèn salah satunya, kita bisa mengetahui bahwa bahasa Jawa kala itu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan akan kosakata baru semisal pilot, pesawat terbang, dan bandar udara. Kata montor mabur adalah salah satu kata hasil pengembangan kosakata kala itu.

Montor mabur | ꦩꦺꦴꦤ꧀ꦠꦺꦴꦂꦩꦧꦸꦂ | Pesawat terbang | Airplane / Aircraft

File:Aerolineas Argentinas Boeing 737-800 overflying Tierra Santa Themepark.jpg

Montor mabur Aerolineas Argentina anggegana sandhuwuré Taman Tierra Santa  | Pesawat terbang Aerolineas Argentina terbang di atas Taman Tierra Santa.
Karya: BerndK. Sumber: Wikimedia Commons

Ing sisih kiwa: Montor mabur pambucal bom gadhahanipun Jerman, nalika nempuh plabuhan Firth of Forth ing Inggris, kénging kasenjata, njungkel. Montor mabur kados makaten punika reginipun ± f 250.000.

Di sebelah kiri: Pesawat terbang pengebom milik Jerman, ketika menyerang pelabuhan Firth of Forth di Inggris, terkena tembakan, [dan] terjatuh. Pesawat terbang seperti ini berharga ± f 250.000.

Majalah Kajawèn edisi 5 April 1940 halaman 373

Sangatlah betul ingatan kita sebagai penutur bahasa Jawa jika masih mengenal montor mabur untuk menyebut pesawat terbang. Pengertian montor dalam bahasa Jawa menurut Bausastra Jawa | Kamus Bahasa Jawa terbitan Balai Bahasa Yogyakarta adalah: (1) bangsa mesin dikalokaké sarana bènsin utawa listrik | sejenis mesin yang dijalankan menggunakan bensin atau listrik dan (2) aran tetunggangan bangsa kréta dilakokaké sarana mesin | nama kendaraan sejenis kereta yang dijalankan menggunakan mesin. Di samping itu, kata mabur bermakna terbang.

Secara harfiah montor mabur dapat bermakna baik mesin terbang maupun kendaraan terbang. Nyatanya, kata mesin mabur | mesin terbang juga ada dalam teks-teks Jawa tahun 1900-an sebagai sinonim dari montor mabur.

Kata bentukan berpola demikian sejatinya juga umum digunakan dalam bahasa-bahasa di Eropa. Dalam bahasa Belanda, vliegtuig | pesawat terbang secara harfiah bermakna benda terbang atau perangkat terbang, begitu pula kata Flugzeug | pesawat terbang dalam bahasa Jerman. Kata flyvemaskine | pesawat terbang dalam bahasa Denmark malah bermakna harfiah mesin terbang persis seperti kata dalam bahasa Jawa.

Bukankah kata pesawat dalam bahasa Indonesia sejatinya bermakna mesin dan bersinonim dengan kata motor, sehingga pesawat terbang sebetulnya bermakna mesin terbang atau motor terbang juga?

Papan anggegana | ꦥꦥꦤꦔ꧀ꦒꦼꦒꦤ | Bandar udara | Airport

File:Juanda Airport.jpg

Papan Anggegana Juanda ing Surabaya | Bandar Udara Juanda di Surabaya.
Karya: Gunawan Kartapranata. Sumber: Wikimedia Commons.

Ing Schotland mentas wonten angin ageng ingkang lampahipun 30 mil ing dalem saejam. Saking agenging angin ngantos saged ngrisakaken papan anggegana ing Evanty, wonten motor mabur 3 kebuncang ing angin ngantos mancelat tebih sami remuk.

Di Skotlandia baru saja terjadi angin ribut dengan kecepatan 30 mil per jam. Karena angin sangat besar bahkan sampai bisa merusak bandar udara di Evanty, ada 3 pesawat terbang terhempas oleh angin hingga terlempar jauh dan hancur.

Majalah Kajawèn edisi 5 Februari 1938 halaman 162

Dalam bahasa Jawa, padanan bandar udara adalah papan anggegana. Kata papan dalam bahasa Jawa berarti tempat, sedangkan kata anggegana, dari kata dasar gegana | angkasa, terbang, bermakna terbang atau mengangkasa. Kata ini bersinonim dengan kata mabur | terbang. Secara harfiah kata papan anggegana bermakna tempat terbang atau tempat mengangkasa. Makna harfiah ini sama dengan makna harfiah kata Flugplatz | bandar udara dalam bahasa Jerman, yaitu tempat terbang.

Kata anggegana atau gegana ini sangat umum dipakai dalam karya-karya tahun 1900-an untuk maksud terbang atau mengangkasa secara umum dibandingkan kata mabur. Kata ini juga produktif dalam pembentukan kata atau istilah baru terkait dunia penerbangan dalam bahasa Jawa kala itu.

Juru anggegana | ꦗꦸꦫꦸꦄꦔ꧀ꦒꦼꦒꦤ | Pilot Pilot

File:Indonesian Navy pilots, Jalesveva Jayamahe, p209.jpg

Juru anggegana Wadyabala Lautan Nasional Indonésia  | Pilot Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL)
Karya: TNI AL Sumber: Wikimedia Commons

Kolonél Lindberg, juru anggegana ingkang misuwur, kalihan ingkang èstri, kala Saptu kepengker anggegana dumugi Karachi badhé dhateng Australié.

Kolonel Lindberg, pilot ternama, bersama sang istri, pada Sabtu lalu terbang dari Karachi akan menuju Australia.

Majalah Kajawèn edisi 3 Maret 1937 halaman 278

Pilot dalam bahasa Jawa adalah juru anggegana. Kata juru ini sangat produktif dalam bahasa Jawa karena banyak membentuk kata baru. Dalam Bausastra Jawa | Kamus Bahasa Jawa terbitan Balai Bahasa Yogyakarta, juru didefinisikan sebagai wong sing nindakaké pakaryan | orang yang berprofesi. Kata juru diikuti kata kerja menjadi kata baru orang dengan profesi tertentu. Sebagai contoh: juru gurit | penyair, juru ladi | pelayan, dan juru rawat | perawat, juru dang | koki, juru mudhi | supir, dan juru basa | intepreter. Cara ini berbeda dengan bahasa Indonesia yang  lebih banyak memakai awalan pe- untuk maksud yang sama, sedangkan awalan pa- atau pe- dalam bahasa Jawa tidak bermakna sama dengan bahasa Indonesia.

Sebagaimana telah disebut di atas bahwa kata anggegana bermakna terbang, secara harfiah juru anggegana berarti juru terbang atau orang yang berprofesi menerbangkan. Kata inilah yang digunakan untuk menyebut pilot dalam bahasa Jawa. Dalam bahasa Indonesia sejatinya dikenal pula kata juru terbang dan penerbang, namun tidak sepopuler kata pilot yang merupakan serapan dari bahasa Belanda, piloot, yang diduga berakar dari kata πηδόν | pēdón | kemudi dalam bahasa Yunani Kuno.

Kata piloot dalam bahasa Belanda diserap dari bahasa Perancis pilote | pemandu terbang yang diserap dari bahasa Italia piloto / pilota | juru kapal serta diturunkan dari bahasa Yunani Pertengahan πηδώτηςpēdṓtēs | juru kemudi yang diturunkan dari kata πηδόν | pēdón | kemudi dalam bahasa Yunani Kuno.

Sumber: Etymologisch Woordenboek van het Nederlands

Sekadar tambahan, pola kata juru + kata kerja ini juga masih umum digunakan dalam bahasa Melayu, khususnya bahasa Melayu Malaysia. Untuk menyebut pilot, di Malaysia masih digunakan kata juruterbang alih-alih pilot atau pailet.

Bagaimana dengan kata-kata lainnya yang berkaitan dengan aktivitas penebangan? Adakah dalam bahasa Jawa?

Ada beberapa kata lain seperti:

  1. palwa anggegana | kapal udara | airship,
  2. wadya anggegana | angkatan udara | air force,
  3. prajurit anggegana | pasukan udara | air troop,
  4. partisara anggegana | sertifikat terbang | flight certificate,
  5. lampah anggegana | perjalanan udara | air travel,
  6. pos anggegana | pos udara | air mail,
  7. pandadaran anggegana | ujian terbang | flight examination,
  8. kasangsaran anggegana | kecelakaan udara | aviation accident,
  9. bebaya anggegana | ancaman udara | aerial threat,
  10. pakaryan anggegana | pekerjaan udara | aerial work.

Kata-kata ini nyata pernah hidup dalam karya-karya Jawa tahun 1900-an.

Kata-kata tersebut mungkin saat ini tidak lagi sehidup dahulu. Bergesernya keahlian penutur bahasa Jawa dari bahasa ibunya ke bahasa lain tak terhindarkan. Namun demikian, dengan makin canggihnya teknologi, bahasa lokal sesungguhnya dapat dipertahankan di dunia maya. Karena itu, meski kata-kata dalam bahasa Jawa tersebut nyatanya sekarang telah tergantikan, kata-kata ini bisa hidup lagi melalui gerakan berbahasa Jawa di Internet. Dan sebetulnya sah-sah saja kita menciptakan kosakata baru untuk konsep-konsep modern dalam bahasa Jawa. Misalnya, gambar anggegana untuk citra udara | aerial photography. Rahayu.

 

Iklan

1 Komentar »

Tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: