Posted in Bahasa Indonesia, Kelirumologi

Presensi dan Absensi

Semasa duduk di bangku sekolah, guru kita selalu menanyakan siapa yang absen hari ini dan kemudian mencatatnya dengan rapi dalam buku absen. Semasa kuliah, kita juga sering meminta teman untuk mengisi daftar absen alias nitip absen. Tahukah kalian bahwa beberapa penggunaan kata absen di atas salah kaprah?

Absen itu merupakan kata kerja dan berarti tidak hadir. Kata bendanya yaitu absensi yang bermakna ketidakhadiran. Presensi merupakan lawan kata dari absensi yaitu kehadiran.

Dalam KBBI Daring, absensi berarti ketidakhadiran. Kalau begitu daftar absen atau absensi harusnya dimaknai dengan daftar orang yang tidak hadir. Nitip absen juga harusnya dimaknai bahwa kita harus menandai dalam buku absen jika teman kita tidak masuk kuliah atau absen. Lucu bukan?

Kata yang tepat yang dipergunakan untuk memaknai absensi yaitu presensi. Presensi dalam KBBI Daring berarti kehadiran. Jadi, masihkah kalian akan menitip absen?

Posted in Bahasa Indonesia, Ejaan bahasa Indonesia

Partikel dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

Tulisan ini diambil dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) Tahun 2015

1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya:

Bacalah buku itu baik-baik!
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?

2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Misalnya:
Apa pun permasalahan yang muncul, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.
Jika kita hendak pulang tengah malam pun, kendaraan masih tersedia.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah berkunjung ke rumahku.

Catatan: Partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung ditulis serangkai. Misalnya:
Meskipun sibuk, dia dapat menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.
Dia tetap bersemangat walaupun lelah.
Adapun penyebab kemacetan itu belum diketahui.
Bagaimanapun pekerjaan itu harus selesai minggu depan.

3. Partikel per yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya:

Mereka masuk ke dalam ruang rapat satu per satu.
Harga kain itu Rp50.000,00 per meter.
Karyawan itu mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.